sarung’s words

Tuhan Begitu Mencintaiku,

Posted by: sarungtenun on: 23 Agustus 2008

Senafas lembut terhembus, cahaya menyibak tirai dunia.

sementara itu bathin perlahan sadar, jiwa sadar, jasad bergerak.
dimulai pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya, aku kurangi kesadaranku.
karena aku mulai butakan satu mataku.
untuk membiarkan satu mata lain memandang dan menyimak.

minus satu setengah. nikmat telah berkurang.
tetapi aku adalah hamba yang terlalu beruntung.
Tuhan memberikan satu mata lain untuk memandang dan menyimak.
mata ini yang aku cari, mata yang musti menghapus mata lainnya.
ini seperti saringgan. ini seperti membaca buku yang belum diterbitkan.

saat jasad selalu memulai gerak pertamanya di awal hari.
ini adalah sebuah jalan baru, kesempatan baru, yang berarti nafas baru.
bukan bonus dari Tuhan, bukan easter-egg, tak gratis.
hidup baru.

perlu dimengerti.
saat pertama tercipta, kita diyakinkan tak akan mati.
no one ever really die. fase selalu ada.
dan Tuhan maha tak terbatas. fase-fase lain menanti.
kita adalah emanasi, semestinyalah menyadari akan-Nya.

kesadaran akan-Nya, adalah kesadaran akan ketakterpisahan.
kemanapun kau mencari, hakikat selalu ada di dalam diri.
kau harus bunuh dirimu, untuk lahir jiwa yang baru.
matilah sebelum kau mati.
kematian bukan koma, pun titik. bukan awal, pun akhir.

memilih mati atau tidak?
pilihan hanya ilusi, takdir selalu berjalan, apapun pilihanmu.
meski 1000 kematian menanti di pintu takdir.
kedekatan dengan-NYA adalah tujuan.
jangan buang waktu. tiap fase harus maksimal.

tetapi…
aku hamba yang terlalu ceroboh. pikiranku busuk.
jiwaku buruk, tak ada yang seburuk ini, ever.
kita musti mengaca dengan cermin jiwa sejati.
menilai baik dan buruk, busuk sekalipun.

baru ratusan kali kucoba.
memahami diri, memahami… memahami…
lagi… lalai… dan lagi… lalai… dan lagi…
satu hal aku mengerti,
Tuhan Begitu Mencintaiku, Tetapi Aku Terlalu Brengsek.

July 21, 2008

Tinggalkan Balasan