sarung’s words

i decided to die alone

Posted by: sarungtenun on: 23 Agustus 2008

Sesa’at,

tak lagi seperti waktu lalu. aku terlalu sendiri, terlalu sendiri untuk memahami ini, lebih jauh. seperti pencarian satguru yang tak kunjung usai, seperti tarian jiwa yang melambat karena ragu.
kemarin kusimak sebuah peringatan, peringatan untuk menjadi biasa saja. karena esok akan terasa panjang dan terlalu lelah untuk tidak terbiasa.
separuh windu sudah ini berjalan. sedikit jalan kulalui, hanya beberapa orang kusapa. namun pengertianku tak luput, tiap jiwa memiliki jalannya sendiri. tiap jiwa diliputi oleh cinta yang membalut manifestasi Tuhan dalam dirinya, namun… Seringkali cinta terlalu mudah kotor oleh goresan dunia.
pagi ini Tuhan ijinkan aku hidup dan melanjutkan langkahku untuk terus menyusuri tepian dunia, mencari mutiara hakikat semua ini…
tapi tarianku masih pelan dan meragu, aku takut raguku melawan tujuan utamaku dalam ampiran ini. aku mulai yakin pada ketakutanku, apakah akan kutemui kamu hari ini, atau esok. tapi esok bukanlah kepastian.
karena aku masih sekedar menyusuri tepian ini.
tak ada mutiara di sini, hanya ada bangkai dan tanda-tanda kematian saja.
tiap lompatan ke dalamnya adalah sebuah tahapan kematian, kematian yang didorong oleh ketertarikan, sampai aku yakin temukan teman jiwaku untuk memahami ini bersama.
jalannya kususuri, dan alamat sudah digenggaman untuk terus menuntun mataku, menjaga hatiku dari keinginan lain. terlalu banyak keinginan hanya akan menyiksa terlalu lama di sini.
ternyata, tak ada jalan lain, selain kematian.
jika diijinkan untuk lebih memahami ini.
ijinkan aku mati…
karena…
pagi ini aku telah memutuskan untuk mati…
untukmu…
dan sendiri…

June 22, 2008

Tinggalkan Balasan